Featured Post Today
print this page
Latest Post
Showing posts with label Wisata Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Wisata Sejarah. Show all posts

The Great Wall of Koto Gadang ( JANJANG KOTO GADANG)


KOTO GADANG
Tembok raksasa di China boleh saja terkenal menjadi salah satu keajaiban dunia, namun Indonesia patut berbangga hati nih, Criters. Karena ternyata negara kita ini juga memiliki Tembok Raksasa yang disebut-sebut menyerupai tembok di China. Yap, ditemukan suatu bangunan bernama 'Janjang Seribu' (Tangga Seribu) yang jika diperhatikan dengan seksama bentuknya sangat menyerupai Tembok China. Hanya saja, Janjang Seribu yang terletak di kota Bukittinggi ini terlihat lebih curam, lebih pendek dan tidak selebar Tembok China yang sesungguhnya.

Sebenarnya bangunan Janjang Seribu ini sempat kehilangan pamornya akibat tak terurus usai gempa yang melanda kota Bukittinggi beberapa tahun lalu. Menyadari akan pentingnya wujud Janjang Seribu bagi objek wisata kota, maka kali ini Janjang Saribu (Tangga Seribu) pun tampil dengan wajah baru ala Tembok Raksasa China. Peresmian janjang inipun baru saja dilakukan oleh Menkominfo Tifatul Sembiring yang disebut-sebut juga sebagai pemberi dana. Tak heran, sebab Bapak Tifatul sendiri merupakan putra asli kota Bukittinggi.

Untuk detailnya, bangunan Janjang Seribu memiliki lebar 2 meter di mana pada sisi kiri dan kanan Janjang Saribu memiliki panjang 780 meter dan dibangun pagar beton setinggi 1 meter. Tak ayal, pemandangan ini semakin memperkuat kesan Tembok China yang megah dan sarat akan nilai sejarah. Eitss, jangan salah. Karena Janjang Seribu juga sarat akan makna sejarah layaknya tembok raksasa di China.

PUNCAK KOTO GADANG


Menurut Saiful (82), salah seorang sesepuh di Koto Gadang Agam, Janjang Saribu ini telah ada semenjak dirinya lahir, yakni sekitar 82 tahun yang lalu. Meskipun disebut Janjang Seribu (Tangga Seribu), pada dasarnya warga sekitar juga tak pernah menghitung secara langsung jumlah dari anak tangga tersebut. Yang menarik, Janjang Saribu ini kabarnya telah dibangun sejak zaman penjajahan Belanda dan dibangun secara bergotong royong. Tidak hanya itu, dulunya kawasan ini dipergunakan oleh warga Koto Gadang dan sekitarnya sebagai jalan pintas untuk ke Sungai Ngarai Sianok dan ke pusat Kota Bukittinggi.

Bagi Criters yang biasa mendaki dan berjalan jauh, dibutuhkan waktu sekitar 15 hingga 20 menit untuk sampai ke puncak. Namun, bagi yang nggak biasa dan jarang berolahraga, rasanya dibutuhkan waktu hingga 30 menit lebih untuk benar-benar sampai ke puncaknya. Jadi, tak jarang pula kawasan ini dijadikan sebagai tempat dilangsungkannya aktivitas olahraga, rekreasi, hangout, serta berbagai aktivitas santai yang menarik lainnya. Dan dengan kehadiran wajah baru dari Janjang Saribu ini, maka secara otomatis diharapkan pula agar para pengunjung dan wisatawan di Kota Bukittinggi dapat terus meningkat setiap tahunnya. Jadi, kapan lagi bisa melihat Tembok China dari dekat?

TAHAP - TAHAP PERNIKAHAN DI MINANGKABAU

 
BARALEK MINANGKABAU

 
Tradisi perhelatan pernikahan menurut adat Minangkabau yang lazimnya melalui sejumlah prosesi, hingga kini masih dijunjung tinggi untuk dilaksanakan, yang melibatkan keluarga besar kedua calon mempelai, terutama dari keluarga pihak wanita. 

Tata cara perkawinan di Sumatra Barat sangat beragam antar luhak adat yang satu dengan luhak adat lainnya. Bahkan antara nagari yang sama dalam satu luhak adat pun berbeda tata caranya. Namun, seiring dengan waktu, terutama bagi warga Minang di rantau, urang-urang awak sekarang sudah mau menerima tata cara dari nagari dan luhak adat Minang lainnya, yang dianggap cukup baik dan menarik untuk dilaksanakan. Misalnya untuk hiasan kepala pengantin wanita yang disebut suntiang balenggek. Awalnya hanya digunakan oleh orang-orang di daerah Padang-Pariaman. Tetapi kini juga dipakai oleh semua anak daro urang Minang. Demikian juga dengan malam bainai dan tata cara menginjak kain putih, yang juga awalnya hanya digunakan di beberapa daerah tertentu di Sumatra Barat. Bagaimana tradisi dan upacara pernikahan adat Minang yang lazim dilakukan oleh masyarakat Minang di masa kini? Berikut adalah tradisi dan upacara adat yang biasa dilakukan baik sebelum maupun setelah acara pernikahan: 

1. MARESEK

Maresek merupakan penjajakan pertama sebagai permulaan dari rangkaian tata-cara pelaksanaan pernikahan. Sesuai dengan sistem kekerabatan di Minangkabau yaitu matrilineal, pihak keluarga wanita mendatangi pihak keluarga pria. Lazimnya pihak keluarga yang datang membawa buah tangan berupa kue atau buah-buahan. Pada awalnya beberapa wanita yang berpengalaman diutus untuk mencari tahu apakah pemuda yang dituju berminat untuk menikah dan cocok dengan si gadis. Prosesi bisa berlangsung beberapa kali perundingan sampai tercapai sebuah kesepakatan dari kedua belah pihak keluarga.

2. MAMINANG/BATIMBANG TANDO (BERTUKAR TANDA)

Keluarga calon mempelai wanita mendatangi keluarga calon mempelai pria untuk meminang. Bila pinangan diterima, maka akan berlanjut ke proses bertukar tanda sebagai simbol pengikat perjanjian dan tidak dapat diputuskan secara sepihak. Acara ini melibatkan orangtua, ninik mamak dan para sesepuh dari kedua belah pihak. Rombongan keluarga calon mempelai wanita datang membawa sirih pinang lengkap disusun dalam carano atau kampia (tas yang terbuat dari daun pandan) yang disuguhkan untuk dicicipi keluarga pihak pria. Selain itu juga membawa antaran kue-kue dan buah-buahan. Menyuguhkan sirih di awal pertemuan mengandung makna dan harapan. Bila ada kekurangan atau kejanggalan tidak akan menjadi gunjingan, serta hal-hal yang manis dalam pertemuan akan melekat dan diingat selamanya. Kemudian dilanjutkan dengan acara batimbang tando/batuka tando (bertukar tanda). Benda-benda yang dipertukarkan biasanya benda-benda pusaka seperti keris, kain adat, atau benda lain yang bernilai sejarah bagi keluarga. Selanjutnya berembuk soal tata cara penjemputan calon mempelai pria.

3. MAHANTA SIRIAH/MINTA IZIN

Calon mempelai pria mengabarkan dan mohon doa restu tentang rencana pernikahan kepada mamak-mamak-nya, saudara-saudara ayahnya, kakak-kakaknya yang telah berkeluarga dan para sesepuh yang dihormati. Hal yang sama dilakukan oleh calon mempelai wanita, diwakili oleh kerabat wanita yang sudah berkeluarga dengan cara mengantar sirih. Calon mempelai pria membawa selapah yang berisi daun nipah dan tembakau (sekarang digantikan dengan rokok). Sementara bagi keluarga calon mempelai wanita, untuk ritual ini mereka akan menyertakan sirih lengkap. Ritual ini ditujukan untuk memberitahukan dan mohon doa untuk rencana pernikahannya. Biasanya keluarga yang didatangi akan memberikan bantuan untuk ikut memikul beban dan biaya pernikahan sesuai kemampuan.

4. BABAKO-BABAKI

Pihak keluarga dari ayah calon mempelai wanita (disebut bako) ingin memperlihatkan kasih sayangnya dengan ikut memikul biaya sesuai kemampuan. Acara ini biasanya berlangsung beberapa hari sebelum acara akad nikah. Mereka datang membawa berbagai macam antaran. Perlengkapan yang disertakan biasanya berupa sirih lengkap (sebagai kepala adat), nasi kuning singgang ayam (makanan adat), barang-barang yang diperlukan calon mempelai wanita (seperangkat busana, perhiasan emas, lauk-pauk baik yang sudah dimasak maupun yang masih mentah, kue-kue dan sebagainya). Sesuai tradisi, calon mempelai wanita dijemput untuk dibawa ke rumah keluarga ayahnya. Kemudian para tetua memberi nasihat. Keesokan harinya, calon mempelai wanita diarak kembali ke rumahnya diiringi keluarga pihak ayah dengan membawa berbagai macam barang bantuan tadi.

5. MALAM BAINAI

Bainai berarti melekatkan tumbukan halus daun pacar merah atau daun inai ke kuku-kuku calon pengantin wanita. Lazimnya berlangsung malam hari sebelum akad nikah. Tradisi ini sebagai ungkapan kasih sayang dan doa restu dari para sesepuh keluarga mempelai wanita. Perlengkapan lain yang digunakan antara lain air yang berisi keharuman tujuh macam kembang, daun iani tumbuk, payung kuning, kain jajakan kuning, kain simpai, dan kursi untuk calon mempelai. Calon mempelai wanita dengan baju tokah dan bersunting rendah dibawa keluar dari kamar diapit kawan sebayanya. Acara mandi-mandi secara simbolik dengan memercikkan air harum tujuh jenis kembang oleh para sesepuh dan kedua orang tua. Selanjutnya, kuku-kuku calon mempelai wanita diberi inai.

6. MANJAPUIK MARAPULAI

Ini adalah acara adat yang paling penting dalam seluruh rangkaian acara perkawinan menurut adat Minangkabau. Calon pengantin pria dijemput dan dibawa ke rumah calon pengantin wanita untuk melangsungkan akad nikah. Prosesi ini juga dibarengi pemberian gelar pusaka kepada calon mempelai pria sebagai tanda sudah dewasa. Lazimnya pihak keluarga calon pengantin wanita harus membawa sirih lengkap dalam cerana yang menandakan kehadiran mereka yang penuh tata krama (beradat), pakaian pengantin pria lengkap, nasi kuning singgang ayam, lauk-pauk, kue-kue serta buah-buahan. Untuk daerah pesisir Sumatra Barat biasanya juga menyertakan payung kuning, tombak, pedang serta uang jemputan atau uang hilang. Rombongan utusan dari keluarga calon mempelai wanita menjemput calon mempelai pria sambil membawa perlengkapan. Setelah prosesi sambah-mayambah dan mengutarakan maksud kedatangan, barang-barang diserahkan. Calon pengantin pria beserta rombongan diarak menuju kediaman calon mempelai wanita.

7. PENYAMBUTAN DI RUMAH ANAK DARO

Tradisi menyambut kedatangan calon mempelai pria di rumah calon mempelai wanita lazimnya merupakan momen meriah dan besar. Diiringi bunyi musik tradisional khas Minang yakni talempong dan gandang tabuk, serta barisan Gelombang Adat timbal balik yang terdiri dari pemuda-pemuda berpakaian silat, serta disambut para dara berpakaian adat yang menyuguhkan sirih. Sirih dalam carano adat lengkap, payung kuning keemasan, beras kuning, kain jajakan putih merupakan perlengkapan yang biasanya digunakan. Keluarga mempelai wanita memayungi calon mempelai pria disambut dengan tari Gelombang Adat Timbal Balik. Berikutnya, barisan dara menyambut rombongan dengan persembahan sirih lengkap. Para sesepuh wanita menaburi calon pengantin pria dengan beras kuning. Sebelum memasuki pintu rumah, kaki calon mempelai pria diperciki air sebagai lambang mensucikan, lalu berjalan menapaki kain putih menuju ke tempat berlangsungnya akad.

8. TRADISI USAI AKAD NIKAH

Ada lima acara adat Minang yang lazim dilaksanakan setelah akad nikah. Yaitu memulang tanda, mengumumkan gelar pengantin pria, mengadu kening, mengeruk nasi kuning dan bermain coki. 

  •   Mamulangkan Tando
Setelah resmi sebagai suami istri, maka tanda yang diberikan sebagai ikatan janji sewaktu lamaran dikembalikan oleh kedua belah pihak. 

  •   Malewakan Gala Marapulai
Mengumumkan gelar untuk pengantin pria. Gelar ini sebagai tanda kehormatan dan kedewasaan yang disandang mempelai pria. Lazimnya diumumkan langsung oleh ninik mamak kaumnya. 

  •   Balantuang Kaniang atau Mengadu Kening
Pasangan mempelai dipimpin oleh para sesepuh wanita menyentuhkan kening mereka satu sama lain. Kedua mempelai didudukkan saling berhadapan dan wajah keduanya dipisahkan dengan sebuah kipas, lalu kipas diturunkan secara perlahan. Setelah itu kening pengantin akan saling bersentuhan. 

  •   Mangaruak Nasi Kuniang
Prosesi ini mengisyaratkan hubungan kerjasama antara suami isri harus selalu saling menahan diri dan melengkapi. Ritual diawali dengan kedua pengantin berebut mengambil daging ayam yang tersembunyi di dalam nasi kuning. 

  •   Bamain Coki
Coki adalah permaian tradisional Ranah Minang. Yakni semacam permainan catur yang dilakukan oleh dua orang, papan permainan menyerupai halma. Permainan ini bermakna agar kedua mempelai bisa saling meluluhkan kekakuan dan egonya masing-masing agar tercipta kemesraan. 

Asal Mula Sejarah Pacu Jawi

Pacu berarti lomba kecepatan dan Jawi maksudnya Sapi atau Lembu. Di Sumatera Barat sapi biasa disebut dengan Jawi. Kegiatan Pacu Jawi merupakan acara permainan tradisional anak nagari (desa) yang lahir dan berkembang di Kabupaten Tanah Datar Propinsi Sumatera Barat. Kegiatan ini hanya ada di Kabupaten Tanah Datar dan sedikit di Kabupaten 50 Kota. Di Kabupaten Tanah Datar-pun hanya pada empat kecamatan, yaitu Kecamatan Pariangan, Kecamatan Rambatan, Kecamatan Lima Kaum dan Kecamatan Sungai Tarab. 
 
Kegiatan pacu jawi telah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan menjadi sarana hiburan yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat setempat. Pada kegiatan ini juga dipadukan dengan tradisi masyarakat berupa arak-arakan (pawai) pembawa dulang/jamba yang berisi makanan dan arak-arakan jawi-jawi terbaik yag didandani dengan asesories berupa suntiang serta pakaian. Biasanya acara tradisi ini diselenggarakan pada minggu ke-IV atau pada waktu penutupan pacu jawi dan menjadi perhelatan yang besar di daerah itu. Pada waktu itu juga diadakan prosesi adat oleh para tetua adat serta berbagai permainan seni budaya tradisional.
Di arena pacu jawi juga bertumbuhan warung nasi yang menjual kopi daun, para pedagang kaki lima serta arena permainan anak-anak sehingga lokasi itu terlihat seperti pasar. Pada waktu itulah masyarakat bergembira ria menyaksikan jawi-jawi kesayangan mereka berpacu, dan setelah itu mereka makan di warung-warung dengan makanan spesifik gulai kambing dan kopi daun. 

Pelaksanaan alek pacu jawi di Kabupaten Tanah Datar dilaksanakan secara bergiliran pada empat kecamatan. Satu kali putaran lomba biasanya empat minggu, ada yang setiap hari Rabu dan ada pula pada setiap hari Sabtu. Acara dilakukan di sawah milik masyarakat setelah selesai masa panen dan tempatnya tidak tetap pada satu lokasi saja. Bila kegiatan diadakan pada satu kecamatan maka peserta dari kecamatan lain akan berdatangan. Dalam satu masa perlombaan, jumlah jawi yang berpacu mencapai 500 hingga 800 ekor.
Pacu jawi diikuti oleh jawi secara berpasangan yang dikendalikan oleh seorang anak joki yang berpegangan pada tangkai bajak. Anak joki dengan tidak memakai alas kaki ikut berlari bersama jawinya di dalam sawah yang penuh lumpur dan air. Acaranya berlansung mulai pukul sepuluh pagi hingga pukul lima sore. Pada waktu perlombaan berlansung kadangkala juga terjadi transaksi jual beli jawi oleh para pedagang dan pemilik jawi. Biasanya jawi yang telah sering memenangkan lomba akan naik harganya hingga dua kali lipat. Jawi pemenang itu akan menjadi kebanggaan bagi pemiliknya dan diincar oleh banyak orang. Itupun menjadi lambang prestise. 

Banyak orang yang belum tahu bagaimana cara penilaian jawi terbaik yang menjadi pemenangnya. Teknis penilaian inipun penuh filosofi dan nilai-nilai yang baik. Adapun jawi terbaik adalah jawi yang dapat berjalan lurus tidak miring dan tidak melenceng ke mana-mana. Dan akan lebih baik lagi apabila jawi tersebut dapat menuntun temannya berjalan lurus. Berarti jawi itu sehat dan tubuhnya kokoh kuat. Biasanya dalam satu perlombaan akan terlihat jawi yang berjalan lurus dan yang tidak, bahkan ada yang sampai masuk ke sawah lain. Jadi yang dinilai bukan hanya kencang larinya dan bukan bentuk struktur tubuhnya saja. Filosofinya jawi saja harus berjalan lurus apalagi manusia. Dan manusia yang bisa berjalan lurus tentu akan tinggi nilainya, itulah pemenangnya.
Beberapa manfaat dari pelaksanaan pacu jawi adalah :
  1. Sebagai wadah untuk meningkatkan harga jual jawi sehingga dapat meningkatkan perekonomian peternak. Kemunian juga sebagai media untuk meningkatkan kesehatan jawi karena jawinya akan sehat setelah berpacu,
  2. Pada acara pacu jawi banyak bermuncullan para pedagang sehingga meningkatkan perputaran roda ekonomi yang dapat pula meningkatkan perekonomian masyarakat,
  3. Acara pacu jawi menjadi sarana sosialisasi dan hiburan bagi masyarakat yang selalu ditunggu-tunggu,
  4. Sebagai alek tradisi masyarakat dimana akan terjadi prosesi adat sebagai aktualisasi nilai-nilai adat di tengah-tengah masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Tanah Datar secara konsisten membina dan mempertahankan kegiatan pacu jawi ini sesuai tradisi dan kebiasaan masyarakat. Pemerintah lebih banyak memfasilitasi ataupun membantu mengemas acara ini menjadi lebih baik sehingga bisa dipromosikan dan dijual kepada para wisatawan nusantara dan mancanegara. Sebagai organisasi pengelolanya pada masyarakat sudah ada PORWI (Persatuan Olah Raga Pacu Jawi) yang ada pada tingkat kabupaten, kecamatan hingga nagari (desa). PORWI inilah yang mengkoordinir jadwal pelaksanaan secara bergiliran.

Kabupaten Tanah Datar dengan ibukotanya Batusangkar adalah salah satu dari 19 kabupaten/kota di Propinsi Sumatera Barat. Kabupaten Tanah Datar disebut juga dengan Luhak Nan Tuo atau daerah tertua karena dari sinilah asal usul etnis dan budaya Minangkabau, yaitu tepatnya dari Nagari Tuo Pariangan. Sedangkan Batusangkar dikenal sebagai Kota Budaya karena di kota ini sangat banyak peninggalan budaya Minangkabau. Batusangkar juga dikenal sebagai pusat Kerajaan Pagaruyung dengan terdapatnya Istano Basa Pagaruyung dengan berbagai macam peninggalan bersejarah. Di Tanah Datar terdapat Istano Silinduang Bulan, rumah tuo Balimbiang, kuburan panjang, balairung sari Tabek, batu angkek-angkek, batu batikam, batu basurek, lukah gilo, debus dan lain sebagainya. Jadi daerah ini dapat disebut sebagai “Old Country” .

Batusangkar terletak sekitar 100 Km dari Kota Padang ibukota Sumatera Barat dan 75 Km dari Bandara Internasional Minangkabau. Batusangkar terletak di tengah-tengah Propinsi Sumatera Barat, terletak 40 Km dari Bukittinggi, 30 Km dari Padang Panjang, 50 Km dari Solok, 40 Km dari Payakumbuh, 40 Km dari Sawahlunto dan 40 Km dari Sijunjung. Pemndangan alamnya sangat indah, terdapat dua buah gunung, yaitu gunung Singgalang dan Merapi. Juga mempunyai sebuah danau, yakni Danau Singkarak. Di Tanah Datar terdapat sebuah hotel berbintang satu dan beberapa buah hotel melati.

Batusangkar, 22 Juli 2009
Drs. Alfian Jamrah, MSi.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Kabupaten Tanah Datar – Sumatera Barat.

SEJARAH BATU BATIKAM





AWAL MULA BATU BATIKAM


sejarah adityawarman di batu samngkar
  1. Terdapat batu besar dan keras yang ditikam dengan keris, yang menurut sejarah ditikam oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang sebagai pelampiasan emosi ketika bertikai dengan Datuk Katumanggungan.
  2. Dapat melihat lobang hasil tikaman secara langsung pada batu
  3. Terletak di Nagari Limo Kaum.

Datuak Parpatiah dan Datuak Katumangguangan berdebat hebat. Keduanya adalah orang bersaudara, berlainan bapak. Datuak Parpatiah nan Sabatang, adalah seorang yang dilahirkan dari seorang bapak aristokrat (cerdik-pandai). Sementara Datuak Katumangguangan, dilahirkan dari seorang ayah yang otokrat (raja-berpunya). Namun pada keduanya, juga mengalir darah dari ibu yang sama, seorang perempuan biasa, seperti apa adanya.

Darah yang mengalir di tubuh keduanya, ternyata berpengaruh pada pandangan hidup yang dijalani. Datuak Parpatiah, menginginkan masyarakat diatur dalam semangat yang “duduk sama rendah, berdiri sama tinggi” (demokratik). Sedang Datuak Katumangguangan, menginginkan rakyat diatur dalam sebuah tatanan yang “berjenjang naik, bertangga turun” (hierarkhial). Perbedaan yang kemudian meruncing menjadi perdebatan, bahkan menjurus menjadi pertikaian...

Sama-sama menghindari untuk melukai saudaranya, kedua datuak kemudian menikamkan pedang dan kerisnya pada batu. Kedua batu itu sekarang, dikenal dengan nama “Batu Batikam” (Batu yang ditikam). Yang satu berdiri tegak di tepi jalan Limo Kaum, di Batu Sangkar Sumatera Barat. Yang lain, ditelan oleh waktu, tinggal cerita, namun tetap dikenang sebagai pertanda. Betapa nenek moyang, yang memiliki kesaktian untuk menghancurkan, bahkan tidak menyukai kekerasan.

makam adityawarman dan batu batikam


Datuak Parpatiah lalu pergi merantau. Memperbandingkan keyakinannya dengan dunia luar. Datuak Katumangguangan sebaliknya, tinggal menjaga kampung halaman, dan membenamkan dirinya dalam kumpulan kebijaksanaan yang ditinggalkan leluhur. Dua cara berbeda, dengan satu tujuan, mencari kebijaksanaan. Dua perjuangan, dengan satu cita-cita, mengatur rakyat agar sejahtera.

Masa berganti, musim bertukar, keduanya bertemu. Dengan kematangan yang semakin baik, sudah tentu. Juga dengan kepala yang semakin banyak tahu. Lalu keduanya duduk berbagi ilmu. Melerai perseteruan yang pernah terjadi bertahun-tahun berlalu. Dan akhirnya bersepakat untuk saling bahu-membahu. Menjadikan rakyat semakin pintar dan maju. Melupakan egoisme masing-masing, mendahulukan kepentingan orang banyak, karena itu lebih penting.

Demikianlah, legenda itu hidup berabad-abad. Disampaikan ke anak-cucu sebagai pelajaran tentang martabat. Kedua sistem tetap hidup hingga kini, berdampingan dan bersahabat. Saling melengkapi dalam jalinan yang erat. Menjadi dua partai yang semacam Partai Republik dan Partai Demokrat di Amerika Serikat. Menjadi sejalur rel, dua garis yang berjalan bersama, tak renggang, meski juga tak akan pernah merapat.

Sejarah Awal Mula Minangkabau


ASAL MULA NAGARI MINANGKABAU


Nagari “Minangkabau” satu-satunya nagari di Ranah Minang Sumbar ini terdapat  diKecamatan Sungayang Kabupaten Tanahdatar dan konon keberadaan Nagari Minangkabau sama tuanya dengan keberadaan etnis Minangkabau sendiri. Dari budaya turun temurun dari generasi ke generasi, konon munculnya kata Minangkabau berawal dari kedatangan suatu rombongan dengan kapal ke pantai barat Pulau Perca. Kedatangan rombongan yang membawa aneka cendera mata dan seekor kerbau betina bertanduk besar, tujuan rombongan mendarat adalah untuk menemui raja Kerajaan Melayu Bukit Batu Patah untuk adu kerbau. Dengan sebuah taktik, kerbau besar tadi dikalahkan oleh anak kerbau Raja Bukit Batu Patah di arena yang berlokasi di nagari Minangkabau sekarang, dan kemenangan inilah menjadi dasar nama Minangkabau dan suku Minangkabau.



Bukti sejarah itu hingga saat ini masih terdapat di nagari tersebut berupa Kiliran Taji yang dipasang pada kepala anak kerbau dan tanduk besar kerbau tamu. Nagari Minangkabau saat ini dipimpin Walinagari Haji Yusran Munaf dan Sekretaris nagari Zulnadi, berkat kepemimpinan Yusran Munaf yang dilantik saat masih aktif di institusi Polri, Minangkabau berhasil mencapai puncak prestasi menjadi nagari berprestasi tingkat  Sumbar dan membawa walinagari ke Istana Negara tahun 2004. Nagari Minangkabau sendiri memiliki penduduk 2810 orang dengan 683 KK, dari penduduk sebesar itu 64 persen berprofesi petani, 8 persen PNS, 16 persen wiraswasta dan 12 persen berprofesi lain-lainnya. Lahan yang digarap 64 persen petani tadi seluas 273 hekatar dan didukung peternakan 152 ekor sapi, 138 ekor kambing, 2564 ekor ayam dan 85 ekor kerbau. Pertanian nagari ini cukup bagus karena topografi nagari berada pada posisi cukup baik yakni 500 hingga 700 meter dari permukaan laut (MDPL) dengan curah hujan 1500 M/tahun dan suhu rata-rata 20 hingga 35 derajat celcius dan jarak dengan ibu kota kabupaten yang cukup dekat yakni 4 Km mendukung pula pemasaran pertanian.
Sebagai nagari berprestasi Minangkabau juga terus berupaya menggali SDA yang ada, dan beberapa tahun terakhir sumber mata air yang ada dinagari ini telah mampu memberi kontribusi terhadap pendapatan asli nagari berupa sharing pengelolaan kolam renang Obyek wisata juga bakal terus dikembangkan, seperti Pemandian Minang, Batu Kiliran Taji, tanduk kerbau dan lesung nan tujuah. Di nagari Minangkabau terdapat empat suku yakni suku Piliang, Kutianyir, Simabur dan Mandahiliang, secara kolektif kepemimpinan adat ini dipimpin ketua KAN Y.Datuak Bagindo Malano sedangkan wilayah administratif terkecil jorong, terdiri dari tiga jorong yaitu jorong Minangjaya, Badina Murni dan Kelarasan Tanjung.


Dalam beberapa tahun terakhir, semagat masyarakat Minangkabau dalam kembali kenagari telah mengantar nagari ini menjadi terbaik dalam berbagai hal seperti memperoleh piagam penghargaan pembangunan dari Mendagri, 2004, Pelaksana terbaik PKK tingkat Nasional, terbaik seTanahdatar, lomba HKG PKK Kesehatan tahun 2003, dan berbagai prestasi lainnya.

Sumber : POSMETRO PADANG PERS